Ngopi Cantik #5 How To Write A Good Beauty Article Tips Dari Beauty Journal

by - February 22, 2018

Haloo,, sudah kangen belum sama Ngopi Cantik bareng Komunitas Beautiesquad? Hohoo.. Tema kali ini sungguh sangat menarik untuk dibahas. Karena pembicaranya ngga tanggung-tanggung langsung dari Kepala Editor Beauty Journal. Bagaimana? Penasaran atau udah ngga sabaran isi materinya apa aja?

Sebelumnya seperti biasa aku mau mengucapkan terima kasih untuk Beautiesquad sudah diijinkan sampai sekarang bareng Ngopi Cantiknya. Dan ngga lupa terima kasih untuk Kak Grisselda Nihardja yang kali ini menjadi narasumber Ngopi Cantik. Kak Griss adalah Kepala Editor Beauty Journal. Oya, Beauty Journal adalah sebuah situs kecantikan dan gaya hidup wanita masa kini. Semua tips, trik, inspirasi kecantikan maupun lifestyle ada di sini. Jadi main-main deh ke situsnya Beauty Journal biar tambah update. Hehe
Beauty Journal sendiri setiap harinya mempublish sebanyak 10 artikel. Wah, kebayang kan kerjanya seperti apa. Idenya juga datang tidak dari dalam diri sendiri saja tapi perlu ngulik dan aware dengan hal-hal di sekitar dan di luar circle kita.

Apa yang menjadi trending saat ini?
Ide yang muncul jika ada sesuatu yang sedang menjadi trend. Misalnya saja saat kita melihat Instagram, Youtube, Facebook atau Twitter. Kenapa harus social media? Tidak semua sih harus melalui social media, tapi kalian pasti sadar kan kalau di masyarakat komunikasi agak kurang jika kita tidak menemukan partner ngobrol yang sejalan dengan pikiran kita. Kebanyakan orang sudah menggunakan handphone untuk saling berkomunikasi. Otomatis this is one of great source karena orang sudah pakai social media.

Next source to find ideas is from people around us.
Seperti yang aku sebutkan di atas ngga semua melalui social media asal seseorang bertemu partner ngobrol yang pas. Misalnya kita sedang ngobrol dengan teman-teman di kantor, di kampus, di sekolah, arisan atau sesama saudara mungkin sedang membahas apa yang sedang trend sekarang. (Bukan membahas pelakor sih pastinya haha) Ini juga bisa menjadi sumber ide dalam membuat artikel.
Contoh lainnya di Kantor Beauty Journal pas makan siang anak-anaknya lagi bahas lipstik lokal favoritenya apa. Nah, tim editorial jadi ngeh "ohh, kita bikin aja beberapa artikel seputar lipstik lokal. Belum pernah dibuat di BJ nih."
Ide lainnya yang mungkin bisa jadi referensi adalah Google Trends atau klik https://trends.google.com/. Memang ngga spesifik banget datanya karena ini free.
Contoh ya, pencarian "lipstick", lokasi udah di set di Indonesia, dan waktunya 3 bulan terakhir.


Hasilnya seperti ini, ada related topics dan ada related queries. Kadang memang hasil yang muncul agak "apaan sih ini" tapi ada beberapa insight yang bisa kita ambil.


Dari picture di atas aku baru tau kalau ada lipstik Ozera. Lipstik Pixy dan Ivan Gunawan juga banyak yang nyari. Hal-hal seperti ini bisa menjadi peluang dalam membuat artikel. Untuk menunjang kerapian dalam mengumpulkan ide-ide artikel, sebaiknya kita punya file khusus untuk menyimpannya. 

Tiap orang memiliki selera sendiri dalam menyimpan ide-ide. Bisa dengan sesimpel kita menulis di notebook atau planner, bisa juga membuat di Microsoft Excel atau di Google Spreadsheet, atau bikin dokumen sendiri di Microsoft Word, Pages, Google Docs, untuk list down all the ideas. Yang pasti jika menemukan idde langsung tulis atau catat supaya ngga lupa.

Beauty Article
Artikel tentang kecantikan tipenya bermacam-macam. Sebelum menulis kita harus tau dan ditentukan dulu artikelnya mau seperti apa. Umumnya beauty article memiliki tipe seperti :
- Produk Rekomendasi
- Review
- Tips
- Tutorial
- Interview

Treatment untuk masing-masing tipe itupun berbeda-beda. Dan sebagai penulis usahakan untik cover important aspect dari tiap-tiap tipe article yang kita buat.

Untuk produk rekomendasi, kita perlu jelaskan apa yang menjadi daya tarik dari produk tersebut. Misalnya kita akan membuat 5 rekomendasi liquid fondation merk lokal. Nah di isinya kita perlu kasih tau beberapa informasi untuk tiap produk. Apa yang membuat produk itu berbeda dari yang lain. Apakah ingredientsnya, harganya,, pilihan warnanya banyak? Sebisa mungkin kita jelaskan alasannya. 

Untuk review, bahasan yang paling sering adalah beberapa poin seperti kemasan, klaim, Ingredients, cara pakai, pendapat, harga produk, dan bisa beli dimana. Misalnya kalau kita nyorotin soal kemasan. Keluhatan simpel ya, tapi mungkin ada beberapa informasi yang orang lain tidak tahu bila belum pakai produknya atau bahkan memegang produknya. Sesimpel kita saat beli setting spray, saat dipencet spraynya nyebar ngga rata atau malah terlalu kencang. Hal seperti ini yang harus disampaikan agar mereka lebih aware juga.

Untuk tips, usahakan dari tips yang practical dan bisa membantu pembaca. Kalau tipsnya sulit dilakukan atau dibuat (misal harus beli bahan xxx di pasar xxx. Jadi kan orang ngga semua mau ngubek pasar atau tinggal di daerah tersebut). Semakin ngga practical audience yang kita engage makin sedikit. 

Untuk artikel tutorial, semua perlu dikasih foto atau image pendukung yang bagus. Orang suka melihat foto. Selain itu foto tersebut akan membantu readers agar tidak bosan. Kalau artikel 700 kata isinya tulisan semua maka potensi orang close tab atau bosan akan semakin tinggi. 

Untuk interview, saat kita datang ke acara launching atau event-event product tertentu bisa Interview brand manager atau orang-orang yang ada di balik acara tersebut untuk artikel. Sebelum interview kita tentukan tema besarnya, mau menyoroti dari angle mana, lalu kembangkan pertanyaan-pertanyaan untuk tema tersebut. Usahakan untuk tidak menanyakan pertanyaan yang terlalu umum. 

Jadi singkatnya seperti contoh, membuat artikel tentang kesalahan memakai foundation. Kalau hanya menulis "kesalhan pakai foundation" saja, saat menulis akan 
Membuang waktu karena tidak tahu isinya seperti apa. Lebih baik menulis poin-poinnya dulu agar tahu pembahasannya seperti apa. 
Misalnya: Kesalahan seputar aplikasi foundation.
  • Belum melakukan persiapan kulit dengan baik.
  • Memakai foundation saat primer masih basah. 
  • Menggunakan aplikator yang kotor.

Semakin jelas apa yang mau dibahas maka semakin enak untuk menulisnya. Kalau bisa saat taruh ide, sudah ada kerangka besar artikel untuk memudahkan kita mengembangkan tulisan. Seperti tulisan dari CMO agency luar Artikel yang bagus akan membuat pembaca :
Belajar sesuatu
Melakukan sesuatu
Merasakan sesuatu

Artikel yang bagus akan mendorong pembaca untuk ikut coba (bisa tips/tutorial/produk), merasakan suara atau opini dari penulis (bagus/buruknya produk, merasa relevan dengan pengalaman atau ceritanya). 

Kesulitan sebagai Challenge
Challenge di Beauty Journal ngga jauh-jauh seputar mengolah satu topik menjadi angle yang berbeda dan Fresh. Karena mereka online media yang setiap harinya harus menaikkan artikel dan topik di kolam "Beauty" seperti yang kita ketahui yang isinya itu-itu saja, bagaimana caranya supaya bisa selalu ada artikel yang fresh. Itulah challenge setiap harinya. 

Solusinya lebih ke melatih tim editorial untuk punya skill mengolah topik yang lebih kreatif. Misalkan dari 1 topik "lipstik lokal", sebenarnya banyak angle yang bisa kita bahas. Contoh:
  1. Rekomendasi Lipstik Lokal Bernuansa Nude yang Tidak Buat Wajah Terlihat Pucat
  2. Brand Lipstik Lokal yang Perlu Anda Ketahui
  3. Lipstik Lokal yang Harganya di Bawah Rp100.000 Namun Punya Kualitas Memuaskan

Nah, cara pikir dan melatih untuk lihat angle dari berbagai macam sisi ini yang aku coba ajarkan dan terapkan di tim Beauty Journal.

Struktur Artikel
Struktur artikel maksudnya kerangka artikel. Pembuatannya kira-kira meliputi 3 aspek ini:
  1. Intro: be creative, bisa menyoroti fear/desire, atau masalah
  2. Isi artikel: poin-poin penjabaran. Usahakan sistematis.
  3. Closure: kesimpulan, pertanyaan balik untuk engagement atau mengundang audience untuk komen (call to action). 

Be objective dan sebisa mungkin hindari statement terlalu judgemental. Di bagian isi artikel, kita bisa break down per penjabaran dalam 1 subtitle supaya pembaca lebih enak bacanya.

The Honest Review
Kebingungan saat mereview produk tentu berdasarkan kecocokkan dari kita sendiri merupakan the honest review. Apabila tidak cocok bagaimana solusinya? 
Tentu ada aja ya produk yang nggak cocok ya saat dipakai. Saat menuliskan produk-produk yang seperti ini, usahakan supaya tidak menghina produk/brand-nya. Mengungkapkan pendapat atau pengalaman kita tentu harus ya, karena namanya juga review. Cara mengemasnya yang perlu diperhatikan, usahakan ditulis dengan cara yang sopan walau produk itu tidak semutakhir yang kita harapkan. Bisa juga dicantumkan, kalau produk xxxx mungkin bisa lebih cocok untuk pemilik kulit xxxx karena ada kandungan xxxx yang dikenal lebih cocok untuk kulit xxxx.

Perlu hati-hati jika memang kita ada kerjasama dengan brand yang sifatnya sudah berbayar. Semua harus dikomunikasikan di depan terutama jika memang belum pernah dicoba dan ada risiko kurang cocok sama kulit. Pada dasarnya brand suka review yang informatif. Misal kita punya kulit berminyak, kalau diminta review skin care untuk kulit kering jadi tidak cocok ya. Penting banget diinfokan di awal dan jujur ke brandnya supaya endingnya tidak kusut di kita. On the flip side, kalau review kita misalnya dikemukakan dengan cara yang baik dan sopan, bisa juga jadi insight atau bahan pengembangan produk dari brand itu supaya lebih baik lagi.

Beberapa brand bahkan suka dan welcome dengan review dan sudut pandang yang kritis. Balik lagi ke cara mengemasnya ya. Harus baik, sopan, dan malah sertakan beberapa input. Misal, mungkin kalau kemasannya berbentuk pump bisa lebih hemat dan higienis. Atau mungkin kalau warna foundation-nya dibuat lebih kuning sedikit lagi, akan lebih masuk untuk banyak wanita Indonesia yang banyak punya warm undertone.

Nah, kalau seputar menulis dari yang lain atau di luar trend tentu tidak apa, kalau memang ada topik yang sudah ingin sekali ditulis, go for it. Saran untuk trend yang lagi hype atau ramai diperbincangkan lebih ada hubungannya dengan SEO. Kalau topik itu banyak dicari, chance untuk nyangkut dan muncul di Google Search makin besar dan kita bisa ketambahan organic traffic.

Bila melihat ide dari orang kan kadang jadi terbawa sama tulisan kita. Berapa komposisi maksimal kemiripan dengan tulisan lain? Untuk mengumpulkan bahan, kita perlu mencari source dari minimal 2 - 3 sumber yang beda. Tiap orang punya gaya menulisnya sendiri-sendiri dan cara memaparkan yang berbeda. Informasi yang sudah kita cek kebenarannya dari sumber-sumber itulah yang perlu kita jelaskan dengan gaya menulis kita sendiri.

Bergabung di Beauty Journal
Sekarang mengirim tulisan untuk Beauty Journal bisa melalui register di SOCO, lalu pilih menu Write Article. Kriteria penulisan yang kami lihat adalah tulisan yang rapi (minim bahasa gaol atau manja), informatif (minimal banget 300 kata), relevan untuk pembaca BJ (yang mostly usianya 18 - 35), dan juga lengkap dengan gambar atau foto pendukung.

Sekarang sedang develop sistem poin untuk reward di SOCO. Namun selain itu, artikel yang tayang di Beauty Journal bisa dapat exposure lebih ke pembaca kami. Yang terseleksi pun akan di-post di social media Beauty Journal sehingga bisa dibaca lebih banyak orang.

Antara Blog Pribadi dan Menulis Review Formal
Kalau untuk blog pribadi bebas, karena sifatnya memang lebih personal. Kalau untuk BJ karena media, semua penulis di tim editorial pakai kata-kata baku sesuai KBBI. KBBI sudah seperti best friend untuk ngecek kata bakunya apa. Baku, tapi nggak kaku yang njlemit seperti nulis jurnal ilmiah lah kalau di BJ. Penulisan beberapa kata nggak baku juga masih kami pakai kok, tapi tidak mendominasi. Seperti saat nulis eyeliner ada yang bilang "beleberan", ya itu tidak apa karena sudah sangat common di Indonesia, tinggal di-italic saja untuk menyiratkan itu beda dari yang lain atau tidak baku.
Tipe artikel yang singkat (minimal 300 kata) di BJ biasanya untuk artikel yang sifatnya beauty news. Kalau untuk artikel-artikel tutorial, tips, biasanya 500 - 700 kata. Untuk review dan interview lebih panjang lagi, bisa 800 - 1200 kata.

Modal Seorang Beauty Blogger
Saran Kak Griss, start dari yang beneran masuk untuk bujet kita aja. Jangan sampai bela-belain potong bujet krusial buat beli barang yaa. Apalagi sekarang banyak brand lokal atau produk yang harganya lebih affordable Tapi offer kualitas yang gak kalah sama high-end brand. Malah kadang ini bisa jadi ciri khas, bisa jadi blog kamu memang dikenal buat spesialisasi review untuk barang drugstore. Join community atau datang ke event2 juga bisa jadi salah satu opsi. Biasanya di goodie bag ada beberapa produk, nah itu bisa di-review juga

Untuk review, mulai dari produk yang dipunya tentu gapapa, karena supaya bisa kasih review yang lebih in depth, sebagai penulis perlu beneran coba dan pakai produknya. Let's start with what we have. Fokusin lebih ke cara mengemas review dan deliver informasinya biar lebih menarik gimana ke pembaca. Saat blog sudah tergrooming dengan baik, traffic makin oke dan segmen & engangement audience juga makin oke, brand bisa lebih aware dengan kehadiran blogmu.

Nah, bagaimana penjelasannya dari Kak Griss? Tentu sangat menarik bukan? Semakin minat untuk menulis blog nih. Semoga jadi inspirasi buat kalian semua ya. 

You May Also Like

2 comments

  1. so true.. info2 yang sudah didapat perlu dicatet biar gak lupa.. dan perlu diolah lagi sebelum ditulis biar articlenya fresh always :)

    xoxo
    blossomshine

    ReplyDelete

Hai,, komentar yang masuk tidak di filter kok. Harap komentar tanpa menyinggung SARA ya. komentar promosi akan dihapus. thanksss

INSTAGRAM